Tanpa Komando

Bikin blog kayak gini, sebenernya seru. Bisa nulis-nulis apa yang dirasain dan dialami. Susahnya satu aja, gak bisa bebas nulis pemeran aslinya. Bisa-bisa ribut di dunia nyata kalau ditulis nama aslinya.

Kayak yang saya alami barusan ini. Ceritanya, saya dipercaya oleh satu keluarga artis untuk membantu memanage usaha keluarganya. Singkat cerita, keluarganya ini punya cafe, yang barengan dengan kantornya. Bagus dong?

Masalahnya, cafe ini jalan tanpa komandan. Yang kebetulan bisa kasih komando, ya kasih komando aja. Jadi kalau pas Ibunya yang hadir, dia kasih komando. Kalau pas kakaknya, ya kakaknya. Kalau pas si artis ini ada, ya dia yang suruh. Akhirnya, ributlah mereka bertiga ini.

Yang ada dibawah, ya pusing. Singkat cerita, cafe ini sebenernya punya kakaknya. Sang kakak maunya jadi pemegang otoritas tertinggi, tapi dia gak mau tau detil. Kalau ada yang salah, dia marah-marah dulu ketimbang cari tahu apa masalahnya. Namanya juga gak mau detil, ya pasti gak ngerti inti masalahnya lah.

Keributan berlanjut karena sang kakak, yang walaupun gak mau ngerti detil, gak mau mendelegasikan kerjaanya kepada seorang manajer. Jadi, intinya, dia gak mau karyawannya punya jenjang. Entah kenapa alasannya. Yang mumet ya karyawannya. Karena jenjang sebenernya kan bukan semata-mata buat jabatan, tapi biar semua yang kerja tau, siapa dibawah komando siapa.

Jadi sekarang gimana? Dari awal sih saya udah nawarin tenaga saya buat beresin apa yang harus diberesin. Gak minta bayaran tambahan loh. Tapi ya tetep gak dianggep. (Apa mungkin karena saya gak minta tambahan bayaran?) Sementara, yang minta bayaran malah dikasih kerjaan. Setelah 3 bulan, yang minta bayaran itu gak rampung-rampung juga kerjaannya. Sementara, saya tiba-tiba dikasih kerjaan alihan (karena sebelumnya gak beres-beres) dalam hitungan hari rampung.

Daftar aplikasi online buat jualan aja, 3 bulan gak rampung-rampung. Saya lakuin, dalam hitungan hari sudah ada respon.

Jadi? Ya udah, tetep gak jelas. Sebenernya, sambil nulis blog ini, saya udah nyaris mau resign. Sebel, kerjaan gak jelas. Ya digaji sih, tapi kan gak kepenak. Tapi niat itu saya urungkan. Gara-gara, driver kakaknya bilang kalau si Ibu (Ibu ini yang kasih saya kerjaan, Ibunya si kakak) bilang kalau saya membantu banget kerjaan si Ibu dan Ibu mengakui itu jelas banget. Semua urusan surat-surat saya beresin.

Setidaknya, saya masih dianggap berguna... ya sudah, saya lanjut kerja buat Ibu. 

Comments