Mas Koki Tanpa Mata
Ini cuma cerita, tentang ikan mas koki yang baru beberapa hari dipelihara di rumah.
Ceritanya, seminggu yang lalu, sempet jalan-jalan antar kecamatan (bingung juga sih ini mau dibilang treknya apa... hehehe...) buat cari penjual ikan hias di sekitar rumah. Lalu, ketemulah dengan kios penjual ikan hias yang tidak terlalu besar, tapi cukup rapi.
Pandangan istri terpesona ke ikan mas koki yang lumayan gede. Jenisnya oranda, warna orange. Harganya gak terlalu mahal sih. Cuma Rp 70.000,-. Tapi kualitasnya lumayan oke. Kata yang jual sih cuma jual harga modal. Dasar ibu-ibu ya.. kalau gak nawar gak cihuy. Singkat cerita, tawar menawar gak deal. Lalu jadinya beli 3 mas koki kecil. Dua oranda, satu teleskop. Harganya (pastinya setelah nego alot... dapet Rp 20.000,-)
Tiga hari kemudian, karena masih penasaran sama ikan mas koki yang diliat beberapa hari yang lalu, akhirnya balik lagi ke toko itu. Dan deal beli dengan harga yang ditawarin dengan bonus 1 mas koki teleskop.
Nah... ikan-ikan mas koki ini dipelihara di satu bak darurat bareng beberapa koi, 1 ekor sapu-sapu, dan beberapa jenis corydoras.
Beberap hari kemudian...
"Tolong...! Cepet ke sini! Tolongin ini!" teriak istri saya. Saya yang baru parkirin mobil di garasi langsung panik. Lompat turun dari mobil dan masuk rumah. Kirain istri saya kenapa-napa.
"Kenapa?" tanya saya.
"Ini si mas kokinya matanya ilang." kata istri saya sambil nyaris nangis.
Bener, saya lihat 1 mata sudah copot, 1 mata lagi rusak. Si mas koki udah oleng. Wah, siapa pelakunya ini? Kayaknya si tikus yang sering gerilnya di rumah. Bagian belakang rumah saya memang terbuka, jadi si tikus kadang seenaknya seliweran.
| Mas koki yang hilang matanya. Badannya yang luka mulai menghitam. Mungkin ini semacam koreng kalau di manusia. |
Akhirnya si mas koki itu saya pisahin ke wadah tersendiri. Langsung cari-cari di internet gimana perawatannya, ternyata pakai methil blue dan garam ikan. Beruntung ada ramuan methil blue, garam ikan, dan ketapang yang pernah dibeli dari teman di Muntilan.
Aerator saya pasang di wadah si mas koki. Untungnya juga, punya aerator cadangan. Buat penghobi ikan, ternyata penting juga punya aerator cadangan. Buat jaga-jaga kalau ada apa-apa.
Seharian sisanya, saya googling. Penasaran apa mas koki buta bisa hidup. Ternyata, dari banyak cerita, mas koki buta bisa hidup juga. Yang penting tetep sehat. Untuk pelakunya, malah diduga sesama mas koki. Tapi di kolam saya, yang lain mas kokinya kan lebih kecil. Dugaan beralih ke koi. Tapi koi itu juga gak ada riwayat ganggu ikan lain. Record dia cuma makan coridoras yang muat ke mulutnya. Kalau dengan ikan yang lebih gede dari mulutnya, gak pernah diganggu.
Hari ini, iseng saya liat kolam darurat koi saya. Kok ada sisik lepas... Awalnya saya pikir itu sisik mas koki yang terlepas. Beberapa saat kemudian, saya amati kalau ada sisik di ikan koi yang terlepas... wah... berarti itu sisik koi dong... Berarti, pelakunya: sapu-sapu.
Lalu saya googling lagi. Ternyata sapu-sapu ini emang hewan invasif. Malah disebut dengan Invasive Alien Species di Indonesia. Disebut alien, karena asalnya bukan dari Indonesia. Sapu sapu asalnya dari Amerika Selatan. Waktu masih kecil, ikan ini emang keliatan imut dan bersahabat. Tapi makin gede, yang dia hajar gak cuma lumut... dia juga nitili ikan-ikan lain, terutama yang lambat.
Nah, koki ini sering mengeluarkan lendir dan gerakannya lambat. Pantas jadi sasaran empuk si sapu-sampu. Sekarang, jadi tau, kalau sumber ketidak-tenangan di kolam koi dan mas koki saya adalah sapu-sapu.
Comments
Post a Comment